Monday, May 16, 2011

Studi Banding D3 Perpustakaan '09 UNS

Finally, we did it. :)
Setelah perjuangan yang panjang dan menyakitkan (lebay.com) hehe, akhirnya studi banding ini bisa terlaksana dengan baik.

Hari 1
Jadwal semula untuk berkumpul jam 09.30 menjadi molor sampai jam 11.00. Sebelum berangkat, kami semua diberi wejangan oleh Pak Alex, Kaprodi D3 perpustakaan agar membanggakan jurusan di mana pun kami berada. Sayangnya, beliau tidak bisa ikut dalam studi banding ini karena suatu hal. Jadi, yang akan mendampingi kami selama di sana yaitu Pak Solikhin, Bu Riah, dan Pak Daryono. Namun, Pak Daryono hanya bisa mendampingi pada hari ketiga.

Bus yang akan kami tumpangi yaitu 2 bis shark yang bergambar kartun warna-warni (Hadah, serasa anak TK ini kalo naek bis ini, hehe, but what so ever lah, hehe). Kebetulan aku naek bis 1, yang katanya anak bis 2, bisku lebih longgar, hehe. Karena aku mabuk darat, so, sebelum naek bis, makan antimo dulu (baca: makan kayak makan permen). Pahitnyoo..

Perjalanan kali ini mungkin akan jadi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tapi aku yakin, banyak pengalaman indah yang dapat dipetik di sini. :)

Hari 2
Pagi-pagi sekali, kami sudah transit di SPBU. Untung sempat mandi di sana, kalau tidak kucel lah muka ni, hehe. Abis transit, perjalanan dilanjutkan ke perpustakaan rumah dunia di daerah Banten. Lama nian perjalanannya, mana belum dikasih sarapan lagi, hadeh.
Sampai di perpustakaan rumah dunia, baru deh makan-makan. Abis ntu, reportase dimulai. I'm ready :)


"Perpustakaan Rumah Dunia didirikan oleh Gol A Gong, seorang penulis yang karyanya banyak dipublikasikan ke mana-mana. Kekurangan fisik yang dimilikinya karena terjatuh dari sepeda di masa kecil, tak menghalanginya untuk berprestasi dan melakukan sesuatu yang berguna untuk sesama. Perpustakaan Rumah Dunia merupakan salah satu dedikasinya untuk masyarakat di sekitarnya. Gol A Gong berprinsip bahwa "iqro" yang artinya "bacalah" merupakan pondasi kesuksesan seseorang."



Setelah dari Perpustakaan rumah dunia, perjalanan langsung dilanjutkan ke studio Opera Van Java (OVJ). Ok, tujuan yang satu ini memang terkesan dadakan karena dalam rencana pun tidak dijadikan tujuan studi banding. Aku pun sempat terkejut (i was really surprised, bcoz noone told me and it didn't one of our plans).

Sampai di tujuan, aku pun sempat terbengong-bengong karena baru pertama kali masuk studio. (hadeh, tampang blo'onku kumat, ^^!) Yang paling bikin seneng ya karena habis ini syuting nda. Syuting perdana bo'. Walaupun cuma nonton doang and kenyataannya gak pernah nampang di kamera atw di layar kaca, hmm. But, it's ok lah.. Paling enggak bisa nonton live. hehe

Abis ke OVJ, rombongan meluncur ke studio hitam putih. Dan inipun bukan merupakan rencana studi banding kita. Shooting kedua ni (ceilee, sombong nian awak, hehe). Studionya terletak di daerah Pancoran dan kita dapet shift kedua. Nunggu lagi, mana entar hotelnya di daerah Jakarta utara lagi. Jauh nian. Hmm. Bintang tamunya Sandy Aulia. Dan aku pun tidak ke shoot lama lagi sebagai penonton. Hmm, efek dari sombong tingkat tinggi nih. Ampun Tuhan..


Hari 3
Setelah selesai dari studio hitam putih, kita langsung pulang ke hotel di daerah Mangga Dua. Rencana awalnya sih, abis dari Banten langsung shopping ke Mangga Dua. Tapi, gak jadi. Ya sudahlah. hehe. Aku dapet kamar berenam di lantai 7. Mana liftnya cuma ampe lantai 6 lagi. Kamar mandi di luar. Hadudu, antri mandi ni. Jam 02.00 pagi baru selesai mandi. Abis itu nyalain alarm karena harus antri mandi lagi, trus bobok dah. Sleep tight...

Bangun pagi kuterus mandi, hehe. Antri mandi lagi bo'. Brrr, untung ada hot water, jadi gak kerasa dingin padahal mandi jam 04.30. Mungkin pagi ini merupakan pagi terbersih ku karena gak sampe 5 jam udah mandi 2 kali. hehe. Abis mandi, terus sholat subuh, dan prepare buat perjalanan nanti.


to be continued







Friday, May 13, 2011

Lomba Blog Pekan Informasi Nasional 2011

Masih terlintas di pikiranku tentang lomba blog yang diadakan berkaitan dengan pekan informasi nasional tanggal 20-24 Mei ini. Awalnya sih coba-coba ikut pelatihan blog di puskom. hari Sabtu tanggal 14 Mei 2011. Sebenarnya aku masih capek karena kemaren Jumat aku baru pulang studi banding Jakarta Bandung. Tapi karena sudah janji ama temen kalo ikut, yasud lah. Janji harus ditepatin dong, hehe.

Sabtu-Sabtu gini kampus masih aja rame. Jadi, gak ngerasa sendiri aja disana (Hubungannya? hehe). Ternyata kita sudah telat 10 menit. Tapi untungnya belon dimulai, hehe. Karena untuk ikut lomba, kita disaranin pake blog uns, aku posting artikelku ya di blog ku yang uns. Di bawahnya dikasi badge pin. Temanya "Warna-warni Solo the spirit of Java". Nah, ada 2 seleksi lomba blog ini. Seleksi pertama akan disaring menjadi 50 peserta. Seleksi terakhir akan dipilih menjadi 3 peserta yang akan menjadi juara 1, 2, dan 3.

Guess what next, aku dan temenku termasuk yang lolos 50 peserta. Haduh seneng banget lah. Gak nyangka aja. hehe. Seleksi berikutnya temanya tentang Mangkunegaran performing arts(MPA). Jadi, kita disuruh buat artikel tentang MPA itu. Nah untuk itu, kita harus melihat MPA yang digelar Jumat 20 Mei kurang lebih pukul 19.30. Jelaslah harus lihat, kalo kagak mana bisa bikin artikel buat lombanya, hehe.

Aku kesana bareng ama ofiex, temenku. Saking rajinnya, jam 7 kurang udah ampe sana. Masih sepi banget. Haduh, terlalu rajin ya begini ni. hehe. Beberapa saat kemudian penonton mulai memadati kursi, bahkan ada yang berdiri karena tidak kebagian kursi. Untung dateng duluan, bisa milih tempat duduk aku. Hehe.
Acaranya seruu banget. Tarian-tariannya keren banget. The sweetest moment itu saat penari wanita duduk di paha penari pria. Pengeen, hehe. Bagian perangnya juga gak kalah keren, sama deh dagdigdugnya kayak film action. hehe. Abis acara selesai, kita sempet foto2 dulu (narsis tetep, (: ), trus pulang deh kita.

Paginya jam 9, kita blogging on the spot di taman budaya surakarta (TBS). Tempatnya itu persis di depan kos ku. Tinggal jalan juga nyampe. hehe. Acaranya disambut oleh Bapak, Tifatul Sembiring selaku menkominfo dan didampingi oleh Bapak Jokowi, walikota Solo. Selain blogging, di sana juga ada presentasi animasi juga. Pengumuman lomba blog akan diumumin 2 hari lagi. Tapi, hati dah mulai deg2an. hmm.

Hari yang ditunggu tiba. Aku dan temenku tidak jadi juaranya . :( Tapi, tak apalah. Banyak pengalaman yang diambil dari sini. Pokoknya, keep blogging :D


artikel solo spirit of Java
artikel Mangkunegaran Performing Art 2011

Friday, April 29, 2011

Indeks Jurnal ilmiah

Jurnal adalah terbitan berkala yang berisi artikel-artikel. Sedangkan jurnal ilmiah merupakan salah satu jurnal akademik di mana penulis mempublikasikan artikel ilmiah. jurnal ilmiah juga dapat berarti majalah yang khusus memuat artikel dalam suatu bidang ilmu tertentu. Untuk memastikan kualitas ilmiah pada artikel yang diterbitkan, suatu artikel biasanya diteliti oleh rekan-rekan sejawatnya dan direvisi oleh penulis. hal ini biasa disebut peer review (ulasan sejawat).


Friday, April 22, 2011

Citra Pustakawan Masa Kini

CITRA PUSTAKAWAN
  • Definisi Citra
Definisi citra menurut Bill Canton adalah kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi. Menurut Philip Henslowe, citra adalah kesan yang diperoleh dari tingkat pengetahuan dan pengertian terhadap fakta (tentang orang-orang, produk atau situasi). Kemudian Rhenald Kasali juga mendefinisikan citra sebagai kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Pemahaman itu sendiri timbul karena adanya informasi. Sedangkan Frank Jefkins mengartikan citra sebagai kesan, gambaran atau impresi yang tepat (sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya) mengenai berbagai kebijakan, personil, produk, atau jasa-jasa suatu organisasi atau perusahaan. Jadi dapat disimpulkan, citra adalah kesan yang muncul karena pemahaman suatu informasi mengenai berbagai kebijakan, personil, produk / jasa suatu organisasi / perusahaan. Citra adalah realitas karena orang hanya dapat bereaksi terhadap apa yang mereka alami dan mereka rasakan. Untuk mengetahui citra seseorang terhadap suatu obyek dapat diketahui dari sikapnya terhadap objek tersebut.

  • Jenis Citra
Frank Jefkins dalam bukunya public relations (1984) dan buku lainnya essential of public relations (1998) mengemukakan jenis citra, antra lain: a. Mirror Image (Citra Bayangan) Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar, terhadap organisasinya. Citra ini seringkali tidak tepat, bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan ataupun pemahaman yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi itu mengenai pendapat atau pandangan pihak-pihak luar. Dalam situasi yang biasa, sering muncul fantasi semua orang menyukai kita.
b. Current Image (Citra yang Berlaku). Citra yang berlaku adalah suatu citra atau pandangan yang dianut oleh pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Citra ini sepenuhnya ditentukan oleh banyak-sedikitnya informasi yang dimiliki oleh mereka yang mempercayainya. c. Multiple Image (Citra Majemuk). Citra majemuk yaitu adanya image yang bermacam-macam dari publiknya terhadap organisasi tertentu yang ditimbulkan oleh mereka yang mewakili organisasi kita dengan tingkah laku yang berbeda-beda atau tidak seirama dengan tujuan atau asas organisasi kita. d. Corporate Image (Citra Perusahaan). Apa yang dimaksud dengan citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya. e. Wish Image (Citra Yang Diharapkan). Citra harapan adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen atau suatu organisasi. Citra yang diharapkn biasanya dirumuskan dan diterapkan untuk sesuatu yang relatif baru, ketika khalayak belum memiliki informasi yang memadai mengenainya.
  • Citra Pustakawan
Dalam permasalahan citra, menurut Cram ada beberapa komponen yang selalu dibicarakan berkaitan dengan profesi pustakawan, yaitu penampilan dan kepribadian, serta status dan gaji. Dua pasang kriteria tersebut selalu diperbandingkan dengan profesi lain. Sayangnya, kita selalu merasa berada di tingkat bawah. Padahal ada suatu keunggulan lain, namun tidak kita sadari, antara lain bahwa profesi kita merupakan profesi yang layak dipercaya. Buktinya pustakawan selalu berbicara sesuai dengan apa yang dia ketahui. Keadaan ini mengingatkan kita pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa hanya orang yang berilmu yang akan menghargai ilmu. Hanya masyarakat terdidik yang akan menghargai pustakawan. Hal ini dikarenakan citra pustakawan merupakan cermin realitas bangsa. Citra pustakawan yang selama ini muncul diantaranya adalah:
a. Profesi pustakawan kurang diakui sepenuhnya oleh masyarakat
Profesi pustakawan di Indonesia relatif baru apabila dibanding dengan profesi lain seperti kedokteran, advokat, guru, wartawan, dan lainnya. Oleh karena itu wajar apabila dalam perjalanannya masih mencari bentuk dan menyesuaikan diri. Dalam proses ini dihadapkan pada beberapa kendala antara lain menyangkut pada pengakuan terhadap ilmu perpustakaan dan profesi pustakawan, rendahnya kinerja pustakawan, dan kurangnya perhatian pada perpustakaan.
b. Pustakawan sebagai orang yang tidak selalu memiliki gelar sarjana, apalagi master.
Faktanya, sebagian anggota masyarakat terdidik kita (baca: akademisi) juga masih ada yang memandang profesi pustakawan dengan sebelah mata. Sebagian yang lain berpandangan bahwa untuk menjadi seorang pustakawan tidak harus menempuh jenjang pendidikan tinggi, seperti sarjana dan pascasarjana, namun cukup lulusan sekolah menengah dengan tambahan mengikuti kursus kepustakawanan selama satu atau dua tahun. Malah ada yang lebih ekstrim lagi cukup dengan mengikuti satu dua seminar/ pelatihan/ workshop kepustakawanan dan dengan bekal satu dua sertifikat saja mereka bisa dengan mudah menyandang titel pustakawan. Padahal untuk menjadi profesi pustakawan diperlukan berbagai keahlian khusus yang menunjang profesi tersebut. Yang tidak kalah menariknya adalah sebuah kenyataan bahwa keterpurukan citra pustakawan dirusak oleh “pustakawan” sendiri. Pada saat ini kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang memilukan, yaitu para pengelola perpustakaan merasa malu atau minder mengenalkan dirinya sebagai pustakawan. Sampai ada seseorang yang latar pendidikan sampai jenjang S2 perpustakaan, akan tetapi tidak digunakan untuk menunjang kariernya sebagai pustakwan, malah memilih menjadi peneliti pusdokinfo dengan alasan predikat peneliti lebih keren daripada pustakawan. Demikian juga di kalangan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, apabila ditanyakan tentang jurusan yang diambilnya, biasanya dengan malu-malu mengatakannya. Begitu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar, bidang dokinfo—yang perpustakaan berada di dalamnya—menjadi bidang untuk menampung orang-orang “buangan.” Ditempatkan di bagian perpustakaan sama dengan dimasukan kedalam “peti mati” atau karirnya telah berakhir. Citra tersebut bisa dirubah karena menarik tidaknya profesi pustakawan tergantung pada diri pustakawan itu sendiri. Sebab secara formal pemerintah telah mengakui dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Penertiban Aparatur Negara (Menpan) Nomor:33/Men/Pan/1998 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Keputusan tersebut kemudian direvisi menjadi SK Menpan Nomor:132/Kep/M/Pan/12/tahun 2002. Selain itu pustakawan telah memiliki organisasi profesi sebagai wadah yang menampung, merespon, membela, menyalurkan, membina dan mengembangkan anggotanya, baik dalam ruang lingkup nasional yang bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Congress of South East Asean Librarians (Consal) untuk tingkat regional, maupun tingkat internasional yang bernama International Federation of Library Associations (IFLA), serta masih banyak forum atau organisasi yang lain.

c. Tunjangan untuk pustakawan sedikit
Pemeritah menghargai pustakawan sama halnya dengan masyarakat umum. Dari semua jenis fungsional yang ada, pustakawan berada pada “kasta” yang paling rendah, tentu saja dengan tunjangannya pun yang paling sedikit. Berikut ini merupakan perbandingan tunjangan jabatan berdasarkan jenis jabatannya, yaitu: No. Jenis Jabatan Jenjang Jabatan Tunjangan Jabatan 1 Peneliti Utama 1.118.000 2 Perencana Utama 1.118.000 3 Perekayasa Utama 1.118.000 4 Pranata Komputer Utama 1.000.000 5 Perpustakaan Utama 500.000 6 Arsiparis Utama 500.000 Sumber: diolah dari Profil Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil. Badan Kepegawaian Negara, 2004. Sedangkan sekarang menurut perpres nomor 47 tahun 2007 tentang jabatan fungsional pustakawan, tunjangan untuk pustakawan sudah bertambah menjadi 700.000.


d. Penampilan Pustakawan
Pustakawan dalam melayani pengunjung / pengguna perpustakaan, dituntut untuk berpenampilan semenarik mungkin, karena penampilan merupakan hal yang pertama dilihat oleh pengunjung / pengguna perpustakaan. Dengan penampilan awal yang baik, akan memberikan kesan pertama yang baik pula terhadap pengunjung / pengguna perpustakaan,sehingga akan timbul rasa kagum, simpati, dan hormat terhadap pustawawan/karyawan perpustakaan. Dengan penampilan yang buruk akan memberikan kesan yang negatif. Hal ini dikarenakan penampilan merupakan citra perpustakaan dimata pengunjung / pengguna perpustakaan. Dengan penampilan yang baik, citra atau image perpustakaan juga akan baik, demikian pula sebaliknya.
Dalam prakteknya, penampilan seseorang tidak dapat dibohongi, artinya penampilan tidak dapat dibuat-buat namun harus dihayati dan dilakukan dengan penuh keikhlasan (kerelaan), Hilangkan rasa keterpaksaan dalam melayani pengunjung/pengguna perpustakaan, karena hal ini akan mengakibatkan penampilan menjadi tidak baik.



DAFTAR PUSTAKA

Oliver, sandra. 2007. Strategi public relations. Jakarta: erlangga.

Soemirat, Soleh dan Ardianto, Elvinaro. 2008. Dasar – dasar public relations: Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudarsono, Blasius. 2006. Berkaca sebelum keluar rumah: refleksi diri pustakawan dalam Antologi kepustakawanan Indonesia (hal. 74-84). Jakarta: IPI.

__. __. Membangun citra pustakawan Indonesia. http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/membangun-citra-pustakawan-indonesia?showall=1. Diakses tanggal 27 April 2011

__. __. Citra Pustakawan. http://celotehaziz.blogdetik.com/tag/citra-pustakawan/. Diakses tanggal 27 April 2011.


Saturday, March 26, 2011

STUDI PERBANDINGAN PROFESI PUSTAKAWAN DENGAN PROFESI DOKTER

TUGAS ETIKA PROFESI

STUDI PERBANDINGAN PROFESI PUSTAKAWAN DENGAN PROFESI DOKTER

DISUSUN OLEH:

NAMA : INTAN PERMATA SARI

NIM : D1809032

PRODI : D3 PERPUSTAKAAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2011



BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Walaupun profesi merupakan pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik sendiri yang membedakannya dari pekerjaan lainnya. Jadi, setiap profesi itu khas dan berbeda antara profesi yang satu dengan profesi yang lain.

Makalah ini akan membandingkan tentang profesi antara profesi pustakawan dengan profesi dokter. Walaupun profesi pustakawan dan dokter sama – sama bergerak dalam bidang pelayanan jasa, namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana karakteristik profesi pustakawan dan dokter?

2. Apa saja persamaan profesi pustakawan dan dokter?

3. Apa saja perbedaan antara profesi pustakawan dan dokter?

C. TUJUAN

1. Untuk menjelaskan karakteristik profesi pustakawan dan dokter.

2. Untuk menjelaskan persamaan profesi pustakawan dan dokter.

3. Untuk menjelaskan perbedaan profesi pustakawan dan dokter.



BAB II

PEMBAHASAN

KARAKTERISTIK PROFESI PUSTAKAWAN DAN DOKTER

Semua profesi disebut pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan disebut profesi. Semua profesi memiliki karakteristik khusus yang membedakan antara profesi yang satu dengan yang lain. Begitu pula dengan profesi pustakawan dan profesi dokter. Berikut ini merupakan daftar dari karakteristik profesi, yaitu:

Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis.

Profesional diasumsikan mempunyai pengetahuan teoretis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktek.

Ketika melanjutkan kuliah di jurusan perpustakaan, kita pasti akan dibekali berbagai pengetahuan tentang perpustakaan tersebut dan hal – hal lain yang mendukung dalam melakukan profesi itu kelak seperti kehumasan, etika profesi, dan lain sebagainya. Teori-teori yang diberikan diharapkan dapat menunjang dan membantu dalam praktek yang sebenarnya kelak.

Begitu pula dengan profesi dokter. Sebelum jdi dokter, kita disyaratkan untuk bersekolah di jurusan kedokteran. Jadi, tidak sembarang orang bisa menjadi dokter. Di dalam perkuliahannya juga diberikan materi – materi yang mendukung bila nanti menjadi dokter.

Asosiasi profesional.

Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya. Organisasi profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk menjadi anggotanya.

Pustakawan memiliki ikatan / asosiasi tingkat nasional maupun internasional. Asosiasi tingkat nasional di Indonesia bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Asosiasi tingkat regional bernama Congress of Southeast Asia Librarians (CONSAL). Sedangkan asosiasi internasionalnya bernama International Federation of Library Association (IFLA).

Ikatan Pustakawan Indonesia memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD dan ART) yang berfungsi sebagai pedoman dalam menjalankan profesi dan sebagai anggota dari IPI tersebut. Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga itu terdiri dari sepuluh bab yang masing – masing dijelaskan dalam pasal – pasal. Anggaran dasar berisi tentang nama, kedudukan, waktu, azas, sifat, lambang, bendera, tujuan, kegiatan, struktur organisasi, keanggotaan, permusyawaratan, kuorum hak suara, keputusan, dana, perubahan anggaran dasar, dan perubahan organisasi. Anggaran rumah tangga berisi tentang nama, lambang, bendera, organisasi, keanggotaan, hak dan kewajiban anggota, pemberhentiaan anggota, pertemuan, dana, perubahan dan pembubaran, dan penutup.

Profesi dokter pun mempunyai asosiasi yang diorganisasi sendiri oleh para anggotanya. Asosiasi itu bernama Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Cabang dari IDI tersebut adalah Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI). Dokter Keluarga adalah dokter praktik umum yang berhak untuk menjadi penyedia pelayanan kedokteran di tingkat primer bagi pasien-pasien yang tergabung dalam suatu perusahaan asuransi kesehatan.

Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga IDI pun hampir sama dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga IPI, meliputi segala hal yang berhubungan dengan ikatan tersebut dan pedoman dalam menjalankan profesinya.

Pendidikan yang ekstensif.

Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. Pendidikan yang ditempuh harus sesuai dengan apa yang akan dijadikannya profesi.

Kita harus menjalani pendidikan dalam bidang pustakawan baik formal maupun informal untuk bisa meraih profesi pustakawan. Pada mulanya persyaratan untuk menjadi pustakawan melalui pendidikan formal ilmu perpustakaan, minimal D2 ilmu perpustakaan. Sedangkan pendidikan non formalnya dapat melalui diklat penyetaraan.

Untuk menjadi seorang dokter, lulusan Sekolah Menengah Umum mengikuti Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) di Institusi Pendidikan Dokter yang ada di Indonesia. Bentuk kurikulum program studi dokter saat ini adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang terdiri atas 3 tahap yaitu tahap pendidikan umum (1 semester), tahap pendidikan ilmu kedokteran (minimum 6 semester) dan tahap pembelajaran klinik (minimum 3 semester). Secara keseluruhan untuk mencapai gelar dokter dibutuhkan minimum 10 semester pendidikan.

Kode etik.

Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan. Kode etik ini dibuat berdasarkan dengan kriteria dari profesi masing – masing dan menjadi acuan moral bagi anggota dalam melaksanakan profesi.

Pustakawan adalah seorang yang berkarya secara profesional di bidang perpustakaan dan dokumentasi, yang sadar pentingnya sosioalisasi profesi pustakawan kepada masyarakat luas, dan perlu menyusun etika sebagai pedoman kerja. Prinsip yang tertuang dalam kode etik ini merupakan kaidah umum pustakawan Indonesia, yaitu tentang kewajiban pustakawan dan sanksi apabila melanggarnya. Kewajiban pustakawan meliputi kewajiban terhadap bangsa dan negara, masyarakat, profesi, rekan sejawat, dan profesi.

Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) merupakan pedoman bagi dokter Indonesia anggota IDI dalam melaksanakan praktek kedokteran. KODEKI yang ada saat ini perlu disesuaikan lagi dengan situasi kondisi yang berkembang sesuai dengan pesatnya kemajuan Iptekdok dan dinamika etika global yang ada. Isi kode etik tersebut hampir sama dengan kode etik pustakawan, meliputi kewajiban seorang dokter terhadap pasien, rekan sejawat, dan diri sendiri.

Layanan publik

Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik. Pustakawan pun melayani publik dalam hal pencarian informasi. Sedangkan layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.

Status dan imbalan yang tinggi.

Profesi yang paling sukses akan meraih status yang tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat.

Di Indonesia, profesi pustakawan “kurang dianggap” sebagai status yang prestise walaupun di luar negeri, profesi ini disetarakan dengan profesi dokter ataupun guru. Kenyataannya, profesi ini belum memasyarakat di Indonesia dan masih dianggap profesi yang hanya bertugas melayani sirkulasi dan menjaga buku. Padahal tugas pustakawan lebih dari itu. Mereka bertugas mulai dari pengadaan bahan pustaka, pengolahan, sampai stock opname.

Profesi dokter di Indonesia dianggap sebagai profesi yang prestise. Namun akhir – akhir ini citra dokter agak menurun karena disebabkan oleh kasus – kasus mal praktek. Walaupun pada kenyataannya tidak semua dokter melakukan demikian.


PERSAMAAN PROFESI PUSTAKAWAN DENGAN PROFESI DOKTER

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pustakawan adalah orang yg bergerak dalam bidang perpustakaan; ahli perpustakaan. Sedangkan dokter adalah seseorang yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Untuk menjadi dokter biasanya diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar dalam bidang kedokteran.

Jadi, dapat disimpulkan persamaan antara profesi pustakawan dengan dokter adalah :

Harus mengikuti pendidikan khusus untuk mendapatkan profesi tersebut.

Persyaratan untuk menjadi pustakawan melalui pendidikan formal ilmu perpustakaan, minimal D2 ilmu perpustakaan atau diklat tentang ilmu perpustakaan. Sedangkan untuk menjadi seorang dokter, lulusan Sekolah Menengah Umum mengikuti Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) di Institusi Pendidikan Dokter yang ada di Indonesia.

Memiliki asosiasi profesional yang diorganisasi sendiri oleh para anggotanya.

Asosiasi pustakawan di Indonesia bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI). Asosiasi tingkat regional disebut Congress of Southeast Asia Librarians (CONSAL). Sedangkan asosiasi internasionalnya disebut International Federation of Library Association (IFLA). Asosiasi dokter di Indonesia bernama Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Cabang dari IDI tersebut adalah Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI).

Bergerak dalam bidang pelayanan publik.

Pustakawan bergerak dalam bidang pelayanan jasa informasi. Pustakawan wajib melaksanakan pelayanan perpustakaan dan informasi kepada pengguna secara cepat, tepat, dan akurat sesuai dengan prosedur pelayanan perpustakaan. Hal ini bertujuan agar masyarakat up to date terhadap perkembangan informasi yang hadir saat ini. Hal ini diharapkan secara tidak langsung dapat membantu pembangunan Bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Profesi dokter memberikan pelayanan publik yaitu dengan berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat. Dengan meningkatnya taraf kesehatan masyarakat diharapkan tujuan pembangunan Indonesia dapat tercapai.

Memiliki kode etik yang berguna sebagai pedoman dalam melaksanakan profesi tersebut.

Prinsip yang tertuang dalam kode etik ini merupakan kaidah umum pustakawan Indonesia, yaitu tentang kewajiban pustakawan dan sanksi apabila melanggarnya. Begitu pula dengan kode etik profesi dokter yang biasa disingkat KODEKI. Isinya juga digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan profesi tersebut.


PERBEDAAN PROFESI PUSTAKAWAN DENGAN PROFESI DOKTER

Terdapat perbedaan yang sangat signifikan walaupun keduanya sama – sama merupakan salah satu dari berbagai profesi. Perbedaan tersebut ialah tentang :

Kualifikasi calon profesi

Semua lulusan dari berbagai jurusan dapat menjadi pustakawan setelah mengikuti pendidikan non formal berupa diklat . Hal ini sangat bertentangan dengan karakteristik dari sebuah profesi bahwa untuk mendapatkan sebuah profesi, harus melalui pendidikan yang ekstensif dan ketrampilan khusus. Namun pada kenyataannya, peraturan yang ada di Indonesia mengatur tentang syarat menjadi pustakawan seperti itu. Hal ini mengakibatkan citra pustakawan menjadi kurang baik karena dianggap tidak profesi yang “tidak eksklusif” karena semua orang dari berbagai jurusan dapat menjadi pustakawan.

Dalam profesi dokter, hanya lulusan dari pendidikan dokter yang bisa menjadi dokter. Namun, sebelum menjadi dokter, mereka harus melalui berbagai tahap uji kompetensi yang diadakan oleh asosiasi mereka. Jadi, tidak sembarang orang bisa jadi dokter. Hal ini menambah prestise dan citra profesi tersebut di mata masyarakat.

Pendidikan sebelum mendapatkan profesi tersebut

Untuk menjadi pustakawan dapat ditempuh dengan 2 jalur pendidikan, yaitu secara formal dan non formal. Pendidikan formal yaitu dengan menempuh pendidikan ilmu perpustakaan minimal D2 perpustakaan. Sedangkan pendidikan nonformal nya, semua lulusan dari berbagai jurusan dapat melalui penyetaraan dengan mengikuti diklat yang biasanya diselenggarakan oleh IPI.

Untuk mendapatkan profesi dokter, pendidikan yang ditempuh hanyalah jalur formal saja. Seseorang harus menempuh pendidikan kedokteran selama minimum 10 semester, yang meliputi tahap pendidikan umum (1 semester), tahap pendidikan ilmu kedokteran (minimum 6 semester) dan tahap pembelajaran klinik (minimum 3 semester). Setelah itu, mereka harus mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang diselenggarakan oleh Komite Bersama Kolegium Dokter Indonesia (KDI) di bawah IDI dan seteah lulus memperoleh Sertifikat Kompetensi Dokter. Setelah memperoleh Sertifikat Kompetensi Dokter, seorang dokter lulusan KBK dapat mengikuti program internship selama 1 tahun. Program internship diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Dokter yang telah selesai mengikuti program internship berhak untuk mengajukan Surat Ijin Praktik secara mandiri. Dokter yang telah mengikuti program internship dapat memilih jalur karier praktiknya. Jadi, untuk mendapatkan profesi dokter itu tidak lah mudah. Dibutuhkan beberapa tahap untuk mendapatkan profesi tersebut.



BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Karakteristik dari profesi pustakawan dan dokter antara lain keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoritis, asosiasi profesional, pendidikan yang ekstensif, kode etik, layanan publik, dan status dan imbalan yang tinggi.

Persamaan profesi pustakawan dengan profesi dokter yaitu sama – sama harus mengikuti pendidikan khusus untuk mendapatkan profesi tersebut, memiliki asosiasi profesional yang diorganisasi sendiri oleh para anggotanya, bergerak dalam bidang pelayanan publik, dan memiliki kode etik yang berguna sebagai pedoman dalam melaksanakan profesi tersebut.

Perbedaan antara profesi pustakawan dan profesi dokter terletak pada kualifikasi calon profesi dan pendidikan sebelum mendapatkan profesi tersebut.

SARAN

Kepada IPI, diharapkan peraturan profesi pustakawan dapat dibuat lebih eksklusif tentang calon profesi seperti profesi dokter.

Kepada masyarakat, hendaknya tidak memandang sebelah mata terhadap berbagai profesi yang ada di Indonesia ini.



DAFTAR PUSTAKA

Hermawan S, Rachman & Zen, Zulfikar. 2006. Etika Kepustakawanan : suatu pendekatan terhadap profesi dan kode etik pustakawan Indonesia. Jakarta : Sagung Seto.

http://id.wikipedia.org/wiki/Profesi diakses tanggal 12 Maret 2011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Dokter diakses tanggal 12 Maret 2011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pustakawan diakses tanggal 12 Maret 2011.

http://www.ilunifk83.com/t130-kode-etik-kedokteran-indonesia diakses tanggal 12 Maret 2011.

Samsung Android Mini


My lovely mobile...
HP nya unik, lagipula termasuk jenis baru diantara hp q sebelumnya, hehe.

Spesifikasi:
spesifikasi Samsung Galaxy Mini:
Jaringan Selular GSM 850 / 900 / 1800 / 1900 (2G)
HSDPA 900 / 2100 (3G)
Dimensi dan berat 11 x 6 x 1,2 cm
105 gram
Layar TFT capacitive touchscreen, 256 ribu warna
Ukuran layar 3,1 inci, 260 x 320 piksel
- Accelerometer sensor for UI auto-rotate
- TouchWiz v3.0 UI
- Swype text input method
- Proximity sensor for auto turn-off
Memori 160MB (RAM)
2GB (storage)
slot memory card hingga 32GB
Konektivitas 3G HSDPA, 7.2 Mbps
Wi-Fi 802.11 b/g/n
Bluetooth 2.1
microUSB 2.0
Kamera 3.15 MP, 2048 x 1536 piksel
Video Ada, QVGA@15fps
OS Android v2.2 (Froyo)
CPU 600 MHz processor
Radio Stereo FM
Browser HTML
GPS Ada, A-GPS support
Fitur - Java (via pihak ketiga)
- Kompas digital
- Integrasi SNS (Social hub)
- Organizer
- Image/video editor
- MP3/WAV/eAAC+ player
- MP4/H.264/H.263 player
- Voice command/dial
- Document viewer/editor
- Google Search, Maps, Gmail, YouTube, Calendar, Google Talk, Picasa integration
- Predictive text input
Baterai 1200 mAh
Harga Rp1.580.000



Kelemahan :
Banyak banget kelebihan dari hp ini dilihat dari spesifikasinya. Namun, tentu aja masih ada kelemahan atawa kekurangan dari hape ini menurutku. Salah satunya yaitu kalo mau dipake buat foto itu agak susah mencetnya kalo mau foto diri sendiri (*narsis.com).
Trus yang kedua, harus konek ama internet. Tentu, hal ini bisa nyedot pulsa. Rugi bo'.Salah satu alternatif mengatasinya yaitu kalo mau browsing, baru koneksi paket data internet diaktifkan. Kalo udah, dimatiin lagi. Begitu. Tapi apapun kelemahannya, aku tetep suka kok. hehe

Saturday, February 12, 2011

Nu Xperience

I got a lot of xperience during i'm 18 years old.
It start from got new friends, accepted to be part time, being "teacher" every saturday, learning something new, and etc.
I've got so many things that i will not forget.
All of that xperience make me mature.
Counting down before i'm 19. I hope i can be better girl than before.